Sabtu Seru Bersama Kubbu!

Pertama tahu nama Kubbu agak terdengar aneh bagi saya, kok namanya kebalikan dari kata buku. Ternyata Kubbu adalah sebuah klub di bidang literasi, Klub Buku dan Blogger.  Bernaung di bawah komunitas Backpacker Jakarta, Kubbu banyak mengadakan kegiatan tentang kepenulisan, sesuai mottonya 3M: Membaca, Menulis, Menginspirasi. Salah satunya pada Sabtu 14 Oktober kemarin, bertempat di Auditorium Perpustakaan Nasional, Kubbu mengadakan diskusi santai tentang menulis dan menerbitkan buku bersama Nunik Utami.  Dihadiri oleh hampir 60 orang anggota Kubbu dan non Kubbu, acaranya sangat asyik. Saya sendiri termasuk peserta dari non Kubbu. Sebenarnya sih  yang lebih membuat saya berminat karena setelah diskusi ada explore ke perpustakaan nasional, yang memang saya sudah sangat penasaran dengan gedung perpustakaan baru tersebut, ngaku! Namun karena isi acaranya sangat menarik, saya pun jadi semakin terinspirasi untuk bisa nulis, syukur-syukur nantinya bisa jadi penulis aktif yang punya karya best seller. Aaamiiiin.

Diskusi Santai Penulisan dan Penerbitan Buku

Bertemu Mba Nunik Utami, ya baru pada saat acara ini. Entahlah apa saya kurang gaul atau apa, saya ga pernah tahu sebelumnya Mba cantik yang sudah menerbitkan lebih dari 50 buku dan ratusan cerpen ini. Ga nyangka juga beliau seorang mantan artis cilik jaman old di acara tv lenong bocah. Bersama 2 moderator yang sangat fasih membawakan acara, Mas Achi dan Bang Eka, Mba Nunik dikilik-kilik berbagai pertanyaan seputar penulisan buku, mulai dari pengalamannya saat pertama kali menulis di tahun 2006 hingga kini. Kami para peserta pun juga diberikan kesempatan untuk bertanya sehingga diskusi makin hidup.  Ada pancingan hadiah juga sih dari panitia, jadi pada semangat nanya 🙂 .

IMG_0027 edit

Mba Nunik banyak memberikan tips seperti langkah-langkah awal penulisan, editing, sampai pada proses penerbitan bukunya. Berbagai trik menembus penerbit juga disampaikan oleh narasumber kece ini, salah satunya sering-sering cek penerbit itu butuhnya naskah apa, sering ikut lomba untuk menambah portfolio menulis, dan beberapa do and don’ts.  Disampaikan beliau juga bahwa 1 naskah tidak boleh dikirim ke lebih dari 1 penerbit. It’s not ethical!

Selain teknik menulis, attitude pun tidak kalah penting.  Aha yang saya dapet adalah menulis harus dengan penuh keikhlasan, menulis ya menulis aja dulu, ga usah pikirin akan dapat apa, toh rejeki nanti mengikuti. Dan juga jaga attitude dalam menulis, hindari sebisa mungkin tulisan negatif, nyinyir ga penting di media sosial,  karena itu akan memperburuk citra penulis.

IMG-20171014-WA0037

Overall, diskusinya keren, ditambah lagi dengan sharing pengalaman juga dari para moderator, jadinya asik, enjoy banget dan sangat inspiratif. Terimakasih Kubbu!

Explore Perpustakaan Nasional

Nah ini yang ditunggu-tunggu, keliling perpustakaan nasional, perpustakaan tertinggi di dunia yang baru diresmikan Presiden Jokowi bulan September lalu. Saat pertama memasuki lobby gedung perpustakaan ini, cuma bisa bilang w.o.w.! Lobbynya luas dengan langit-langit yang tinggi. Terdapat rak buku raksasa yang menjulang dari lantai 1 ke lantai 4. Ini nih penampakannya.

IMG_0007

Sudah terkagum-kagum sama rak setinggi itu, pas menengadah ke atas, kita akan melihat peta Indonesia dari bagian bola dunia, di bagian langit-langitnya. Keren kan!

IMG_0096

Di beberapa sudut lobby bisa kita temui beberapa pajangan dan buku tentang para Presiden RI, lalu ada 1 layar komputer besar berisi peta dari google earth yang bisa kita geser-geser (touch screen). Direktori gedung pun ada di lantai ini. Gedung perpusnas ini juga sangat ramah anak, lansia dan penyandang disabilitas. Di sudut lantai 2 saya lihat ada kursi roda yang disediakan. Dilihat dari direktorinya, ada lantai khusus yang melayani koleksi untuk mereka yakni di lantai 7.

IMG-20171014-WA0024

Oiya, perpustakaan ini dibuka setiap hari Senin – Sabtu, jam 9 – 16. Sebelum acara diskusi dimulai, saya menyempatkan diri untuk mencoba mendaftar sebagai anggota Perpusnas.  Di ruang pendaftaran banyak disediakan komputer yang dilengkapi dengan thermal printer untuk mencetak  nomor antrian. Proses pendaftaran pun cukup simple, kita input data di komputer, print nomor antrian, lalu menunggu dipanggil untuk difoto.  Setelah itu kita langsung mendapatkan kartu anggota. Ada 4 loket untuk  pengambilan foto dan kartu anggota, namun karena weekend, ramai sekali yang mendaftar. Saya dapat antrian nomor 63 dan rasanya ga keburu kalau harus menunggu karena acara diskusi juga sudah akan mulai. Ok deh, skip dulu, kapan-kapan bisa balik lagi.

Gedung perpusnas terdiri atas 24 lantai, kita pun boleh ke lantai mana pun. Eskalator hanya bisa digunakan sampai lantai 4 saja, selebihnya harus menggunakan lift.  Berlokasi di  Jalan Medan Merdeka Selatan Jakarta Pusat, setiap lantai di perpusnas memberikan suguhan pemandangan yang ok banget, karena langsung menghadap ke Monumen Nasional. Di setiap lantai ada balkon yang bisa memanjakan kita untuk sekedar duduk-duduk atau selfie. Kebetulan auditorium yang kami pakai untuk acara diskusi ada di lantai 4. Dari ketinggian ini pun viewnya sudah sangat indah.

Bersama para peserta diskusi, kami menuju roof top  di lantai 24 dan langsung ke balkon. Subhanallah,  kita bisa langsung melihat Monas dan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. Pokoknya selfiable dan instragramable deh! Kami pun berfoto bersama. Saya ga kalah excitednya untuk ambil beberapa foto. Di lantai 24 ini ada ruang khusus VIP untuk presiden, dilengkapi ruang duduk santai yang langsung menghadap ke Monas. Asik banget kan, baca buku, viewnya Monas, sambil duduk di kursi santai, jadi betah. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan wahai para pecinta buku? 🙂

IMG_0058

Setelah puas menikmati view dari lantai 24 dan melihat buku-buku budaya di lantai tersebut, saya pun turun ke lantai 22 untuk melihat buku-buku umum. Koleksi buku di perpusnas ini sangat lengkap dan beragam. Menurut info yang saya dapat, ada 2,6 juta buku, termasuk koleksi buku langka, naskah kuno dan koleksi mancanegara. Ada pula  koleksi foto, peta dan lukisan.

Selain baca buku, bisa juga kita manfaatkan ruang duduk di Perpus ini sebagai co-working space alias tempat kerja. Tinggal bawa laptop, duduk manis. Colokan listrik pun tersedia untuk charge laptop atau hp.  Pokoknya nyaman banget deh buat kerja dan baca.

ruang baca3

ruang baca2

So, teman-teman, yang penasaran sama perpustakaan nasional, langsung cuss lah. Ga ada salahnya nongkrong di perpus, ga ada yang tahu juga kok kalo kamu pura-pura sibuk baca buku sebagai pelarian abis ditinggal mantan, ups! Satu lagi, siapa tahu ketemu jodoh deh disana. Kayak saya, awal mula jodoh bertemu gegara salah satu majalah di perpus. Haha.. Ini nantilah ceritanya, tunggu saja episodenya, insyaAllah tayang!

DS, 17 Oktober 2017 00:42

Advertisements